Selasa, 26 Juli 2016

Mahasiswa Rusia dan Korea Kunjungi Bank Sampah Komunitas TaPe uLi




Oleh: Madya Harmeka

Senin, 27 Juli 2016, Bank Sampah Rubi 1 Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (TaPe uLi) mendapat kunjungan belajar dari beberapa Mahasiswa Rusia dan Korea dalam program pertukaran pelajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI).

Dalam kunjungan ini, mereka belajar  bagaimana program Bank Sampah telah membantu pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA dengan cara mengedukasi warga memilah sampah secara berkesinambungan.

Komunitas Bank Sampah senantiasa mengajak masyarakat  agar melakukan pemilahan sampah dari rumah masing-masing. Sampah dari rumah dipilah menjadi tiga, yaitu organik, anorganik, dan residu.

Proses penyelesaian selanjutnya, sampah organik (60%) dikelola UPS menjadi kompos, sampah anorganik (25%) diberdayakan di Bank Sampah, dan sampah residu (15%) masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Sampah anorganik di Bank Sampah sebagian diolah menjadi produk kreatif berupa aneka macam aksesoris seperti tas, dompet, bros, gantungan kunci, taplak meja, aneka wadah serba guna, dan masih banyak lagi. Proses pembuatan dan penjualan aneka produk inilah yang diharapkan ke depan dapat meningkatkan taraf perekonomian masyarakat.

DR. Alin Halimatussa'diyah salah satu pengajar di FEUI berharap dengan kunjungan ini para mahasiswa dari luar negeri mendapatkan gambaran tentang program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, juga salah satu upaya pemberdayaan ekonomi.

Seorang mahasiswa dari Rusia bernama Alexander ketika melihat hasil kreativitas daur ulang mengaku baru kali ini melihat hasil kreativitas berbahan baku sampah yang beraneka ragam. Ketika saya tanya, "Apakah di negara Anda menemui karya-karya seperti ini?" Dia menjawab,"Mungkin, saya belum pernah temui, saya baru pertama kali ini melihat hasil karya yang berasal dari bahan baku sampah, saat ini."

Para mahasiswa tersebut akhirnya mengerti bahwa upaya menyelesaikan permasalahan sampah menjadi tanggung jawab setiap orang yang juga sebagai produsen sampah itu sendiri.

Demikian liputan singkat ini semoga bermanfaat. Akhirnya, dalam mengedukasi masyarakat dibutuhkan kesabaran dan konsistensi, bagaimana masyarakat akhirnya memiliki habbit atau kebiasaan yg baru, dari kebiasaan mencampur sampah, kemudian sekarang memilah sampahnya.

Saya merasa senang dapat kesempatan bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman  semua, harapannya semoga yang kami lakukan dapat memberi inspirasi di negara masing-masing. (editor: nurmah)
Reaksi:

2 komentar:

  1. wow kereen. moga komunitas ini trus menebar manfaat utk smua.

    BalasHapus
  2. wow kereen. moga komunitas ini trus menebar manfaat utk smua.

    BalasHapus