Selasa, 27 November 2018

Isi Booth Gebyar My DarLing School 2018, Komunitas TaPeuLi Banjir Pengunjung


Oleh: Eka Putri Juniarti, S.Sos.I

Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (TaPeuLi) kali ini bermitra dengan Sekolah Nasional Plus Tunas Global sebagai salah satu pengisi booth di acara Gebyar My DarLing School 2018 (Masyarakat Sadar Lingkungan Sekolah) 2018 pada hari Sabtu, 24-11-2018.

Gebyar My DarLing School (GMD) 2018 ini adalah agenda rutin tahunan yang slalu diselenggarakan oleh Sekolah Nasional Plus Tunas Global sejak tahun 2010. Sebagai gerakan kepedulian pelestarian lingkungan hidup dan bumi yang bermula dari sekolah, untuk membangun budaya peduli lingkungan bagi seluruh masyarakat. Dengan mengusung tema; Hidup Sehat 'Healthy Life, Happy Mind' acara ini sukses menarik pengunjung.

Booth Komunitas TaPeuLi dibanjiri pengunjung yang sebagian besar adalah siswa beserta orangtua siswa. Mereka meminta keterangan atas edukasi yang sudah dilakukan oleh Komunitas TaPeuLi di masyarakat.

Booth Komunitas TaPeuLi selain berisi barang2 kreasi daur ulang sampah, juga dilengkapi dengan banner cara mengelola sampah dan banner Komunitas yang memuat keterangan dan program Komunitas. Selain itu Komunitas TaPeuli memberikan edukasi pemilahan sampah melalui game kepada pengunjung booth. Dalam acara ini Komunitas TaPeuLi juga diberi kesempatan oleh pihak sekolah untuk memperkenalkan dan mempromosikan Komunitas di atas panggung.

Kamis, 10 Mei 2018

Pendidikan Keluarga dan Waspada Bahaya LGBT




Oleh : Rika Y. Widyastuti, S.IKom


Apa itu lingkungan hidup?

Ada banyak pengertian mengenai lingkungan hidup, ada yang menyebutkan bahwa lingkungan hidup adalah sebuah kesatuan yang meliputi makhluk hidup dan seluruh komponen di sekitarnya (www.lingkunganhidup.co).

Pengertian lain menurut UU No. 23 Tahun 1997, menjelaskan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan prilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia  serta makhluk hidup yg lain. Ada tiga unsur yang membentuk lingkungan hidup itu sendiri yaitu unsur hayati (biotik), sosial budaya dan abiotik (fisik).

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa lingkungan hidup tidak semata urusan tanaman, hewan, bumi, sungai, gunung, udara dan sebagainya karena itu hanya meliputi unsur biotik dan fisik. Namun, ada unsur lain yang belum termasuk di dalamnya, unsur tersebut adalah unsur sosial budaya, yang melingkupi hubungan manusia dengan manusia lain, yang membentuk suatu lingkungan sosial masyarakat.

Telah kita sadari bersama bahwa lingkungan hidup kita begitu banyak masalah, tidak hanya menyangkut unsur fisik seperti polusi, sampah, illegal logging dan masih banyak yang lainnya. Unsur sosial budaya pun memiliki begitu banyak masalah, yaitu kejahatan, kemiskinan hingga propaganda LGBT yang sudah menjadi penyakit kronis yg menghinggapi lingkungan masyarakat kita.

Berbicara tentang LGBT, adalah berbicara tentang moral, berbicara tentang generasi penerus, norma agama, norma hukum dan tatanan hidup bermasyarakat. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya, mencegahnya dan menangkalnya. Propaganda LGBT saat ini bak bola salju, semakin hari semakin bertambah besar, bahkan para pelaku atau penderita sudah tidak malu-malu lagi tampil di depan umum, karena merasa sudah punya tempat di lingkungan masyarakat kita.

Kita tidak mau masyarakat kita ternodai bahkan terhinggapi penyakit berbahaya ini, kita tidak mau anak cucu, karib kerabat, tetangga hingga orang yang kita kenal dan sayangi terjerumus penyakit ini.

Oleh sebab itu, kami Komunitas Tangan Peduli Lingkungan, ingin turut serta memberikan sedikit kontribusi mengajak masyarakat  menyadari dampak negatif dari propagada LGBT ini. Tangan kami, tidak selalu peduli pada sampah, tanaman dan lain sebagainya, namun tangan kami pun peduli terkait hal masalah lingkungan sosial.

Bertepatan dengan Hari Sabtu, tanggal 07 April 2018, kami (TapeUli) berkerjasama dengan RKI wilayah Pondok Jaya. RKI adalah kepanjangan dari Rumah Keluarga Indonesia, sebuah lembaga yang concern dalam meningkatkan kualitas keluarga Indonesia, mengadakan pendidikan keluarga dan waspada bahaya LGBT, menghadirkan narasumber berkompeten, ia adalah sosok ibu yang sangat konsisten dalam menangani masalah keluarga khususnya LBGT, beliau adalah Ibu Wulan Saroso, ketua LK3 (Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga) Kota Depok.

Pada kesempatan ini, beliau memaparkan perkembangan LGBT di Kota Depok, bagaimana awal mula timbulnya penyakit ini, bagaimana cara penularannya, bagaimana cara menghadapinya hingga bagaimana cara mengantisipasi hal negatif tersebut.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 40 ibu aktivis peduli lingkungan dan penggerak bank sampah. Satu demi satu fakta dibuka, dari jumlah penderita LGBT yang sudah mencapai 7000 orang, metode penularan, mudahnya fasilitas yang menunjang interaksi di kalangan mereka, dan masih banyak fakta-fakta yang membuat kami pun terus mengelus dada, ternyata sudah separah ini lingkungan sosial kita.

Kami menyimak dan akhirnya mengetahui bahaya itu memang telah dekat dan ada di depan mata kita, kita ingin mencegah hal negatif ini menimpa bahkan menghinggapi lingkungan kita, kita harus peduli, tidak boleh cuek acuh tak acuh melihat fenomena ini, jangan pula kita hanya berkutat pada unsur fisik semata, sampah dan kawan-kawannya. Namun harus peduli pada unsur sosial juga, yaitu masyarakat.

 "Beberapa hal yang dapat kita lakukan, di antaranya adalah mulai membiasakan untuk menunjukkan sikap bersahabat, membantu mengarahkan, mendampingi, terutama bagi mereka pengidap atau siapapun yang mempunyai kecenderungan berbeda dengan yang lain (yaitu mereka yang tomboy bagi perempuan, bencong/banci, atau waria bagi laki-laki), karena selama ini mereka mendapatkan sikap diskriminatif dalam masyarakat. Mereka harus didekati dan diarahkan agar tidak semakin terjerumus dan bisa kembali pada kehidupan yang sehat." demikian kiat-kiat bentuk kepedulian yg disampaikan Bu Wulan.

Setelah menyimak pemaparan yang disampaikan narasumber, kami semakin bertekad untuk lebih peduli lagi, kami akan berusaha menjauhkan, mencegah dan menangkal generasi kami dari penyakit ini. Karena kami adalah wanita pemilik tangan-tangan yang peduli, peduli pada seluruh unsur dalam lingkungan.

"Selain upaya bentuk sikap kepedulian yg bisa diberikan,  upaya penting lain yang harus dilakukan adalah do'a yang harus terus dipanjatkan agar Sang Pemilik anak-anak kita,  senantiasa terus memberi bimbingan,  arahan dan perlindungan serta pertolongan-Nya,  karena sebaik-baik yg dapat melakukan itu semua untuk kita, anak dan keluarga semuanya, adalah Dia, Allah SWT, Tuhan semesta alam. " Tandas Ibu Madya ketua Komunitas TaPe uLi sekaligus menutup kegiatan.

Mari terus gelorakan semangat untuk terus peduli.

Kamis, 30 November 2017

Komunitas TaPeuLi Gelar Training Literasi Informasi Kesehatan


Oleh: Eka Putri Juniarti, S.Sos.I

Depok, Komunitas TaPeuLi menyelenggarakan training literasi informasi kesehatan bagi para ibu muda sebagai upaya membangun kesadaran informasi  kesehatan yang bekerjasama dengan Tim Pengabdian Masyarakat Vokasi Universitas Indonesia (UI).

Training yang diselenggarakan pada hari Rabu, 29 November 2017 di kantor sekretariat Komunitas TaPeuLi ini mengambil tema “Menangkal Hoax melalui Literasi Informasi Kesehatan: Peran Ibu Muda sebagai Agen Informasi”.

“Masifnya penyebaran informasi di dunia maya seringkali menimbulkan kegaduhan sosial. Pasalnya, tidak semua informasi yang beredar, validitasnya dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Elsa Roselina, SKP, MKM selaku Ketua Pengabdian Masyarakat Vokasi UI.


Training ini melatih para ibu muda agar mampu menelusuri, mengumpulkan, dan memilah dengan cepat melalui metode search engine dan mampu mengemas ulang dengan aplikasi canva, untuk kemudian disebarluaskan kembali di berbagai media elektronik.

 

Bertugas sebagai trainer adalah dari Tim Komunitas TaPeuLi, Yaitu Nurlaela Bima Puteri, S.Sos., Hendarti Handayani, A.Md., Eka Putri Juniarti, S.Sos.I dengan didampingi Tim dari Pengabdian Masyarakat Vokasi UI.

Dengan training ini diharapkan para ibu muda dapat menangkal berkembangnya informasi-informasi kesehatan yang diragukan validitasnya.