Selasa, 17 Desember 2019

Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (Tapeuli) goes to Cirebon (Part 2)


Museum Linggarjati, Woodland dan Batik Trusmi


Perjalanan kami selanjutnya mengunjungi tempat bersejarah Nasional, yaitu Museum Linggarjati. Letak gedung ini berada di kaki Gunung Ciremai Kab. Kuningan Jawa Barat. Gedung tua bergaya kolonial Belanda ini sebelum difungsikan sebagai museum sempat mengalami beberapa pergantian fungsi dan kepemilikan. Pada masa kolonial, gedung tua ini sempat menjadi markas tentara. Kemudian diubah fungsi lagi menjadi Sekolah Dasar (sekolah rakyat) dan pernah juga menjadi Hotel. Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, gedung ini digunakan sebagai tempat diadakannya Perundingan Linggarjati di tahun 1946. Mengingat peranannya yang penting dalam usaha menciptakan kemerdekaan Indonesia yang sepenuhnya, gedung ini kemudian diresmikan sebagai museum pada tahun 1976.

Ketika Masuk ke dalam museum, kami seperti dibawa ke dalam napak tilas diplomatik para pendiri bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Meja perundingan, berbagai dokumentasi berupa foto, diorama, benda-benda peninggalan lainnya, hingga hasil naskah perjanjian Linggarjati bisa disaksikan dari dekat di museum ini. Pada bagian belakang gedung terdapat halaman yang luas dihiasi dengan pepohonan yang rindang dan tangga menuju ke bawah. Pada area ini, terdapat monumen yang bertuliskan isi pokok hasil perundingan.

Tidak hanya sampai disini, kami masih melanjutkan perjalanan wisata ke Woodland yang lokasinya tidak jauh dari museum Linggarjati. Sesuai namanya, Woodland menawarkan wisata alam natural. Hal ini terlihat pada pohon-pohon besar yang mungkin usianya sudah ratusan tahun. Sehingga Kawasan wisata itu terkesan lebih rindang dan sejuk. Di sekitar lokasi terdapat banyak bangku yang terbuat dari kayu, tempat para pengunjung menikmati hembusan angin segar menerpa wajah. Terdapat pula kolam terapi ikan & beberapa kolam renang berbagai ukuran yang diisi dengan air murni. Kami menghabiskan waktu dsini sebelum kembali pulang sambil menikmati nasi Jamblang khas Cirebon.

Oh ya, tidak lupa pula kami singgah ke toko oleh-oleh khas Cirebon di Batik Trusmi & Mencicipi kuliner khas Cirebon yang  melegenda di empal gentong H. Apud. Perjalanan kami selama 20 jam bersama di Cirebon & Kuningan ini sungguh mengesankan. Selain tujuan utamanya belajar tentang sistem MaSaRo di sekolah Man 2 tadi. Kami cukup terhibur & merasa bahagia bisa menikmati destinasi-destinasi wisata yang indah & bersejarah di kota ini. Sebagai refreshing bagi kami para pegiat lingkungan hidup, yang setiap harinya berkutat dengan masalah sampah & lingkungan. Tentunya kegiatan ini sangat bermanfaat & menyenangkan. Ditambah lagi dengan Keseruan selama diperjalanan, banyak tawa canda dan berbagi kisah, dan untuk menambah suasana semakin meriah, kami mengadakan acara-acara sederhana dengan bernyanyi, berbalas pantun dan sesi tanya jawab (kuis) yang tentunya dihujani banyaknya doorprize-dooprize menarik bagi para peserta yang bisa menjawab pertanyaan, MasyaaAllah semua merasa hangat dan menjadi semakin erat.

 (Windiana)

Minggu, 15 Desember 2019

Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (Tapeuli) Goes to Cirebon (Part 1)



Studi Banding Masaro di MAN 2 Cirebon dan Fun Trip to Gua Sunyaragi

Pada tanggal 7 Desember 2019, Anggota Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (Tapeuli) mengadakan kegiatan study banding ke sekolah MAN 2 Cirebon yg menerapkan sistem MaSaRo (Manajemen Sampah Zero). MAN 2 Cirebon merupakan satu-satunya sekolah di dunia yg menjalani sistem MaSaRo di dalam lingkungan sekolah. Yang digagas oleh Prof. Zaenal Abidin & dikelola oleh bapak H. Mahfudi Beserta Ibu Wati. Menurut pengakuan Bpk. H. Mahfudi, MAN 2 pernah mendapatkan penghargaan, dukungan & perhatian dari negara asing yaitu Amerika,  serta pernah dikunjungi langsung tamu dari Amerika selama 2 hari di MAN 2 ini.

Ada 3 misi yg dijalankan oleh tim Mas
SaRo, Yaitu; Mengelola sampah di dalam lingkungan sekolah MAN 2, Pesantren sekitar (karena banyaknya lembaga pesantren di sekitar lingkungan sekolah ini), dan dari lingkungan masyarakat umum.

Adapun visi dari sistem Masaro ini yaitu;
Lembaga sekolah MAN 2 sebagai percontohan ramah lingkungan. Niatnya sebagai Rahmatan lil'alamiin. Ikhlas tanpa pamrih dalam Membantu masyarakat menjadi lebih nyaman dalam mengatasi permasalahan sampah pada umumnya & lingkungan sekolah pada khususnya.

Motto yg diterapkan : Kerja Profesional. Kerja Keras. Kerja Cerdas. Kerja Ikhlas. Kerja tuntas serta Evaluasi terus menerus.

Adapun salah satu hasil yang didapat dari program MaSaRo ini yaitu, bisa Menghasilkan Pupuk Organik Cair Istimewa (POCI) yg berkualitas baik. Selain harganya yang Lebih ekonomis, berikut ini beberapa keunggulannya. yaitu, menggunakan teknologi revolper, memperbaiki lahan pertanian yg sudah kritis & miskin unsur hara, hasil panen dapat tumbuh lebih subur, mempercepat keluar bunga & buah, memperbaiki kualitas rasa buah & dapat mengurangi kerontokan buah/bunga dibanding menggunakan pupuk lain. Cara Pembuatan pupuk dari bahan sampah organik yang mudah hancur. Tidak termasuk sampah organik yang bertekstur keras, seperti; tulang ikan, biji salak, kulit telur dll. Ampas sisa pembuatan pupuk cair masih bisa dipergunakan lagi, yaitu sebagai bahan media tanam.


Kami diajak berkeliling mengunjungi tempat pembuatan pupuk cair. Mulai dari proses fermentasi, penyaringan, hingga hasil akhir yang siap dikemas & dipasarkan. Kami juga diajak melihat proses pembakaran sampah melalui alat khusus, sehingga asap tidak menimbulkan polusi udara. Adapun sisa-sisa hasil pembakaran sampah tersebut lagi-lagi masih  bisa dimanfaatkan sebagai pelapis anti rayap di media kayu kusen. Luar biasa sekali bukan?, jika sistem MaSaRo ini dijalankan di semua wilayah tentunya kita tidak perlu pusing lagi untuk mencari lahan TPA(Tempat Pembuangan Akhir).

Ada manfaat lagi dalam proses MaSaRo ini, mengenai pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar melalui proses "Pirolisis", yakni proses dekomposisi senyawa organik yang terdapat dalam plastik melalui proses pemanasan katalitik dengan tanpa melibatkan oksigen. yaitu : pengolahan sampah menjadi penguat jalan aspal (plastipal) dan bisa menjadi BBM (bahan bakar minyak). Sayangnya, pada saat itu kami tidak dapat melihat proses tersebut dikarenakan alatnya sedang dalam masa perbaikan.

Rencana kedepannya, MaSaRo MAN 2 ingin membuat terobosan baru yakni pestisida organik dengan bahan dasar rebung bambu hitam & bongkol pisang batu hitam. Semoga dapat segera terealisasi.

Setelah kami mengunjungi lokasi MaSaro, kami melanjutkan perjalanan ke situs Gua Sunyaragi. Gua tersebut merupakan peninggalan sejarah sejak thn 1529 M Di Kota Cirebon. Sering juga disebut sebagai Taman sari Sunyaragi. Nama “Sunyaragi” berasal dari kata “sunya” yang artinya sepi dan “ragi” yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sansekerta. Gua Sunyaragi ini dahulu sering digunakan sebagai tempat meditasi para sultan Cirebon beserta keluarganya. Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Gua Sunyaragi ini,  kami terkagum-kagum dengan batuan karang yang bertumpuk tak beraturan ini. Batuan karang tersebut disusun tanpa pola khusus dan konon katanya direkatkan dengan putih telur dan hasilnya sangat artistik dan menarik.


Total terdapat 10 gua di situs bersejarah di Cirebon tersebut. Dan ukurannya tak terlalu besar. Sepuluh gua di situs tersebut terdiri dari Gua Pandekemasan, Gua Simanyang, Gua Pengawal, Gua Pandekemasan, Gua Peteng, Gua Langse, Gua Arga Jumut, Gua Lawa, Gua Pawon dan Gua Kalanggenan. Terlepas dari banyaknya mitos yang beredar, Gua Sunyaragi ini punya banyak spot berfoto Instagramable lho... Waah, jadi tunggu apa lagi, jika berkesempatan pergi ke Cirebon, jangan lupa untuk mampir ke Gua Sunyaragi ini ya!, seperti kami.



 (Windiana)

Senin, 08 Juli 2019

TaPe uLi Menghadiri Seminar Dan Kunjungan Pabrik Kemasan



Rabu, 26 Juni 2019, Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (TaPe uLi), mendapat kesempatan mengikuti Seminar dan kunjungan pabrik Kemasan Group bertema “Mengenal Lebih Dalam Tentang Polisterena Busa untuk Kebaikan Manusia dan Lingkungan”. Yang diselenggarakan oleh TRINSEO dan Kemasan Group.  Adapun acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang polistirena (yang dikenal dengan nama Styrofoam) sebagai bahan yang bermanfaat untuk kehidupan manusia, melihat fakta ilmiah terkait isu polistirena yang beredar di Indonesia terutama lingkungan, dan mengunjungi pabrik yang memproduksi kemasan makanan dari bahan ini. Rangkaian kegiatan ditutup dengan agenda Focus Group Discussion(FGD) bersama komunitas lingkungan lainnya, untuk menganalisa dan mencari gagasan terbaik dalam memanfaatkan bahan polistirena ini untuk kebaikan manusia dan lingkungan.
     

Pabrik daur ulang stereofoam yang rusak untuk dijadikan bahan mentah kembali

Acara berlangsung di Karawang, yaitu di PT Kemasan Cipta Utama Factory, Jl. Surya Madya Kav 128 F Industrial Area Surya Cipta, Karawang.

Narasumber yang hadir dan memberikan paparanya antara lain,
Bapak Wahyudi Sulistya, Presiden Direktur Kemasan Group, Dr. A. Zainal Abidin, Polystyrene Expert & Dosen ITB, serta Bapak Asroel Hussein dari Adupi.

Bahan mentah stereofoam

Dari kegiatan tersebut, kami dapat memahami lebih dalam tentang stereofoam keamanannya dan manfaatnya, serta komitmen dan upaya tanggung jawab perusahaan terhadap limbah produksinya tersebut di lingkungan, dimana stereofoam bisa didaur ulang, termasuk soal pengumpulannya dari masyarakat, hingga dapat kembali masuk ke pabrik untuk  didaur ulang dan kembali di proses, benar-benar harus segera direalisasikan.

Proses pencetakan, bentuk, dan pengepakan

Pendapat dan komentar kami setelah mengikuti kegiatan tersebut.  Pada kesempatan ini kami sekaligus juga menyerukan kepada semua pihak, baik pemerintah, industri dan masyarakat bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah yang diproduksi atau dihasilkan.
Dari pemerintah, kami tentu berharap, dapat dibuat sebuah regulasi dan penerapan yang serius dalam pengelolaan sampah dengan bijak, disambut dengan upaya masyarakat yang juga serius untuk mulai membiasakan untuk menerapkan bijak kelola sampah di lingkungan rumah dan masyarakat, perusahaan juga harus benar-benar serius dan bertanggung jawab dalam mendaur ulang sampah kemasannya.

Kami juga menangkap, pemerintah kurang dalam memberi peringatan keras bagi perusahaan-perusahaan yang belum serius menjalani upaya tanggung jawab penyelesaian sampah kemasannya, yaitu kemasan berjenis multilayer,seperti kemasan makanan berlapis alumunium foil, kemasan kotak, selopan, dll.

Budaya minim sampah plastik yang sedang digalakkan di masyarakat, tetap bisa menjadi upaya efektif dalam program pengurangan semua jenis sampah plastik baik yang single layer (kresek) maupun multilayer (alumunium foil, selopan, Tetra pack, mika, dll) dan dalam rangka membudayakan pola hidup hemat di masyarakat.

(Madya)