Jumat, 22 Maret 2019

Berkiprah di Bank Sampah, Harus Pantang Menyerah!

Hasil gambar untuk bank sampah depok

by, Novi Ardiani

“Dengan memilih untuk menjadi pengurus maupun nasabah bank sampah yang terus tanpa lelah menularkan semangat Go Green, artinya kiprah itu sudah dimulai. Dan, pantang dihentikan oleh apapun!”  

Saya belajar memilah sampah rumah tangga pada awalnya melalui forum arisan ibu-ibu RT di lingkungan tempat tinggal sekitar tahun 2012.  Ini pula yang menjadi awal persentuhan saya dengan kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga di Bank Sampah Ruby 2.

Pertengahan tahun 2012 merupakan awal dari dirintisnya Bank Sampah Ruby 2.  Saat itu, para ibu di bawah komando Ibu Faiko Isnaeni dengan sukarela belajar memilah sampah non organik secara otodidak melalui forum arisan warga.  Momen berkumpul dijadikan moment silaturahim para ibu sekaligus wahana belajar memilah sampah non organik sesuai dengan jenisnya.  

Nama Bank Sampah Ruby 2 dipilih sesuai dengan nama cluster di pemukiman tempat tinggal agar mudah diingat dan memunculkan rasa memiliki bagi warga Cluster Ruby khususnya RT 06 RW 10.  Sebelumnya, Bank Sampah Ruby 1 (dengan nasabah gabungan warga RT 01, 02, 03 dan 04) telah dibentuk dan menjadi partner Bank Sampah Ruby 2 dalam melakukan kegiatannya.  Mengingat jumlah penghuni cluster sebagai nasabah bank sampah terlalu padat untuk dicakup oleh satu bank sampah saja, maka kemudain lahirlah Bank Sampah Ruby 2 di RT 06 dan Bank Sampah Ruby 3 di RT 05.

Sejak dibentuknya Bank Sampah Ruby 2 tahun 2012, kediaman Keluarga Alip Subagyo- Faiko Isnaeni  (Ketua RT) secara sukarela dijadikan Sekretariat Bank Sampah Ruby 2. Sampah non organik yang telah dipilah oleh nasabah disetorkan ke sekretariat setiap Rabu pagi Pukul 7.00 sd. 8.00 WIB.  Selanjutnya, pengurus Bank Sampah Ruby 2 dan para relawan memilah lebih lanjut dan memastikan bahwa pilahan sampah telah sesuai dengan jenisnya. Mereka pula yang melakukan penimbangan, pencatatan, serta penyetoran keseluruhan pilahan sampah kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok yang datang secara rutin ke bank sampah-bank sampah di Kota Depok pada jadwal waktu tertentu.  
Relawan Bank Sampah: Ibu Peduli Kelola Sampah
Gambar 1 :  Suasana Pemilahan Sampah di Sekretariat Bank Sampah Ruby 2

Sebagai kompensasi dari penyetoran pilahan sampah secara rutin, Bank Sampah Ruby 2 menerima sejumlah rupiah yang dikumpulkan sebagai kas warga oleh Bendahara.  Uang ini digunakan sebagai sumber dana bagi sejumlah kegiatan warga RT 06 seperti kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga, operasional bank sampah, dan kegiatan pemeliharaan kebersihan lingkungan seperti kerja bhakti.  

Selain itu, Bank Sampah Ruby 2 juga memberikan apresisasi kepada nasabah yang menyetor sampah pilahan dengan benar dan baik dalam kuantum yang konsisten tiap pekannya.  Ganjarannya berupa pembebasan iuran kas RT. Ini dapat dilakukan karena pendapatan bank sampah kadang kala bisa mensubsitusi kebutuhan biaya dalam kas RT.
D:\bank sampah\LOMBA 3R\sosialisasi.jpg
Gambar 2: Kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di lingkungan tempat tinggal penulis yang dibiayai dari hasil pemilahan sampah di Bank Sampah

Saya mulai merasakan betapa tanggung jawab pengelolaan sampah rumah tangga bukanlah perkara sepele pada saat berkesempatan menjadi Koordinator untuk Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak di lingkungan RT sekitar tahun 2014 sampai dengan 2015.  Pengelolaan Bank Sampah Ruby 2 menjadi program kerja yang berada di bawah tanggung jawab saya. Upaya untuk memberdayakan para ibu, anak-anak dan para asisten rumah tangga dalam pengelolaan sampah rumah tangga melalui bank sampah, ternyata tidak mudah.  Apalagi tidak setiap orang memiliki waktu, tenaga, dan level kepedulian yang setara untuk menjadi relawan dan pengurus bank sampah.

Menjadi pengurus bank sampah  memang bukanlah peran yang mudah. Tidak setiap ibu di lingkungan tempat tinggal saya, berani untuk menjalani peran ini.  Termasuk saya. Saya memilih untuk jadi nasabah, dan bergerak di belakang layar saja. Misalnya, dengan mensupport komunikasi dan publikasi mengenai bank sampah.  Ini masih bisa saya lakukan di sela kewajiban pekerjaan di kantor.  Sebagian besar waktu saya di kantor pagi hingga sore hari, sehingga tidak memungkinkan untuk bersama para ibu pengurus bank sampah pada siang hari.  

Menjadi pengurus bank sampah artinya merelakan untuk mengorbankan sebagian waktu keluarga dan pribadi untuk mengurusi sampah pilahan dengan konsentrasi lebih. Artinya pula, merelakan waktu untuk belajar memilah sampah, mengajarinya kepada para nasabah, mengajak masyarakat sekitar untuk giat memilah sampah dan menjadi nasabah.  Sekaligus, bersedia setiap waktu berkoordinasi dengan pihak terkait untuk kemajuan program bank sampah.

Lebih dari itu, pengurus harus merelakan rumah kediaman menjadi posko kegiatan pengumpulan dan penimbangan sampah kering pilahan warga/nasabah. Jelas, menjadi pengurus bank sampah bukan urusan mudah. Mereka adalah volunteer lingkungan yang tidak tergantikan.  

Kiprah Publikasi dan Komunikasi

Berkecimpung di bank sampah dengan menjadi nasabah aktif dan aktor belakang layar, adalah pilihan akhir bagi saya.  Sebisa-bisanya, dengan sumber daya yang ada, saya mendukung eksistensi Bank Sampah Ruby 2 dengan membuatkan profil, visi misi, hingga materi presentasi yang diperlukan ketika akan maju untuk lomba.

Karena tidak dapat bersama para ibu pengurus Bank Sampah Ruby 2 di siang hari untuk kegiatan bank sampah, saya mencuri-curi jam kerja untuk mendukung dan ikut kontribusi dengan cara lain. Terutama, untuk menyusun materi komunikasi dan publikasi yang dibutuhkan Bank Sampah Ruby 2. Ketika masih menjadi Koordinator Pemberdayaan Perempuan dan Anak di lingkungan tempat tinggal, saya menyusun brosur yang mengajak warga untuk aktif memilah sampah dan menjadi nasabah.  Brosur ini saya kerjakan di saat jam istirahat kantor.


Gambar 3  : Brosur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan dibagikan ke warga
Gambar 4  : Brosur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan dibagikan ke warga

Setelah dibuat, brosur ini diperbanyak dan dibagikan ke warga bersama-sama dengan Petunjuk Bagan Alur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.  Tujuannya agar warga paham dan punya pedoman dalam pengelolaan sampah rumah tangga, termasuk pemilahan sampah di bank sampah.

Patut disyukuri, upaya ini sedikit banyak mengguggah warga untuk peduli pada lingkungannya. Perlahan-lahan, warga mulai melakukan langkah nyata memilah sampah dan menyetorkan ke Bank Sampah Ruby 2.  Nasabah Bank Sampah Ruby 2 setiap tahun pun semakin bertambah walau ada pula yang maju mundur dalam melakukan pemilahan sampah.

Gambar 5 :   Materi pamflet Bagan Alur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan dibagikan kepada warga  sebagai pedoman

Gambar 6 :   Materi pamflet Bagan Alur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan
dibagikan kepada warga  sebagai pedoman


Terus Berkiprah Terus Memilah!

Saat ini, Sekretariat Bank Sampah Ruby 2 telah berpindah tempat ke rumah kediaman keluarga Bapak Wemfi - Ibu Kiki Mulyowati  dengan semangat pemilahan sampah yang tidak kalah berkobar dengan pendahulunya Bapak Alip Subagyo-Ibu Faiko Isnaeni. Setiap pekan, nasabah selalu diingatkan untuk menyetor sampah pilahan ke Sekretariat Bank Sampah Ruby 2 yaitu setiap hari Rabu pagi sebelum Pukul 9.00 Wib.  

Saya selalu merasa salut dengan kiprah para pengurus bank sampah dan relawan.  Mereka konsisten mengajak warga untuk memilah sampah. Sejujurnya, ini memotivasi!  Memilah sampah sangat membantu dalam mengurangi sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian hari kian minim daya tampungnya.  Memilah sampah dengan benar sesuai jenis membuat sampah yang dibuang ke TPA betul-betul hanya sampah residu saja. Sampah residu adalah sampah yang sudah tidak bisa diolah lagi.  Sedangkan sampah pilahan dapat didaur ulang menjadi produk ramah lingkungan yang bernilai ekonomi. Pengalaman saya selama enam tahun terakhir, memilah sampah dengan benar bisa mengurangi pembuangan sampah hingga 2/3 nya.

Gambar 7 :  Kegiatan ibu ibu di lingkungan tempat tinggal penulis
dalam mengkreasikan produk daur ulang dari sampah pilahan
Gambar 8  : Kegiatan ibu ibu di lingkungan tempat tinggal penulis
dalam mengkreasikan produk daur ulang dari sampah pilahan


Konsistensi para pengurus Bank Sampah Ruby 2 sebetulnya menular pada saya.  Saya menyediakan pojok khusus di lantai atas rumah untuk mengepul sampah pilahan yang akan disetor ke bank sampah.  Setiap hari, dalam berbagai kesempatan, anak-anak dilibatkan dalam pemilahan sampah. Tempat sampah pun dibuat terpisah untuk sampah organik dan non organik.  Anak-anak jadi terbiasa sampai sekarang. Namun ini bukan terjadi begitu saja. Perlu memberikan contoh kepada anak, dan konsisten. Kadang itu yang tidak mudah bagi ibu.

Asisten rumah tangga saya sejak 2012 hingga sekarang, datang dan pergi. Sudah berganti sekian kali, tetapi setiap kali berganti selalu diajarkan memilah sampah.  Saya ceburkan asisten rumah tangga kepada kegiatan bank sampah dan memilah sampah. Lama-lama semua jadi terbiasa. Dan seperti inilah yang memang saya impikan. Memilah sampah jadi sebagian nafas dalam bergulirnya roda hidup. Walaupun perjalanannya sangat panjang.  

Saya meyakini, berperan aktif dalam memilah sampah dan peduli pada lingkungan tidak harus dengan menjadi pengurus bank sampah.  Bahkan dengan menjadi nasabah aktif yang konsisten atau mendukung kiprah di belakang layar juga sama manfaatnya. Yang terpenting adalah semangat dan kesadaran untuk Go Green  bukan hanya di bibir, tetapi dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari.  

Bagaimana agar tidak bosan memilah? Ya, memilah itu bikin lelah. Apalagi ketika lingkungan kita tidak kondusif.  Juga ketika banyak orang lalu mulai tidak peduli lagi. Satu-satunya cara yang dapat membuat saya bertahan untuk tetap memilah sampah adalah keinginan untuk meraih berkah.  Tanggung jawab manusia terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri dengan mengelolanya mungkin akan menjadi berkah. Berkah bagi keluarga dan anak cucu kelak. Karena lingkungan bersih juga adalah hak mereka.  

Siapapun kita, pengurus bank sampah atau nasabah, mari jangan bosan dan lelah memilah.  Terus berkiprah. Hidupkan Bank Sampah. Bebaskan lingkungan dari sampah! Semoga ini semua akan jadi berkah.  Berkah yang Melimpah! Ingatlah, berkiprah di bank sampah harus pantang penyerah! Jangan berhenti memilah sampah!(Opi)


Biodata Penulis :

Novi Ardiani, akrab disapa Opi adalah ibu dua anak yang suka menulis. Lahir di Jakarta pada November 1977, dan senang belajar hal-hal baru.  Menyelesaikan pendidikan S1 Biologi FMIPA UI dan S2 Ilmu Manajemen FEB UI. Selain pernah menjadi dosen Mikrobiologi di FK Yarsi Jakarta, pernah pula menjadi jurnalis di Harian Media Indonesia. Saat ini masih bekerja sebagai karyawati Perum BULOG dan sebagai bloger aktif menulis di blog pribadinya www.opiardiani.com.  Belajar memilah sampah dan mendukung di balik layar untuk Bank Sampah Ruby 2 Permata Depok Regency ketika masih mengemban amanah sebagai Pengurus RT Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak di wilayah tempat tinggalnya. Selalu ingin menularkan hal positif melalui tulisan, termasuk kepedulian terhadap pengolahan sampah.

Selasa, 27 November 2018

Isi Booth Gebyar My DarLing School 2018, Komunitas TaPeuLi Banjir Pengunjung


Oleh: Eka Putri Juniarti, S.Sos.I

Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (TaPeuLi) kali ini bermitra dengan Sekolah Nasional Plus Tunas Global sebagai salah satu pengisi booth di acara Gebyar My DarLing School 2018 (Masyarakat Sadar Lingkungan Sekolah) 2018 pada hari Sabtu, 24-11-2018.

Gebyar My DarLing School (GMD) 2018 ini adalah agenda rutin tahunan yang slalu diselenggarakan oleh Sekolah Nasional Plus Tunas Global sejak tahun 2010. Sebagai gerakan kepedulian pelestarian lingkungan hidup dan bumi yang bermula dari sekolah, untuk membangun budaya peduli lingkungan bagi seluruh masyarakat. Dengan mengusung tema; Hidup Sehat 'Healthy Life, Happy Mind' acara ini sukses menarik pengunjung.

Booth Komunitas TaPeuLi dibanjiri pengunjung yang sebagian besar adalah siswa beserta orangtua siswa. Mereka meminta keterangan atas edukasi yang sudah dilakukan oleh Komunitas TaPeuLi di masyarakat.

Booth Komunitas TaPeuLi selain berisi barang2 kreasi daur ulang sampah, juga dilengkapi dengan banner cara mengelola sampah dan banner Komunitas yang memuat keterangan dan program Komunitas. Selain itu Komunitas TaPeuli memberikan edukasi pemilahan sampah melalui game kepada pengunjung booth. Dalam acara ini Komunitas TaPeuLi juga diberi kesempatan oleh pihak sekolah untuk memperkenalkan dan mempromosikan Komunitas di atas panggung.

Kamis, 10 Mei 2018

Pendidikan Keluarga dan Waspada Bahaya LGBT




Oleh : Rika Y. Widyastuti, S.IKom


Apa itu lingkungan hidup?

Ada banyak pengertian mengenai lingkungan hidup, ada yang menyebutkan bahwa lingkungan hidup adalah sebuah kesatuan yang meliputi makhluk hidup dan seluruh komponen di sekitarnya (www.lingkunganhidup.co).

Pengertian lain menurut UU No. 23 Tahun 1997, menjelaskan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan prilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia  serta makhluk hidup yg lain. Ada tiga unsur yang membentuk lingkungan hidup itu sendiri yaitu unsur hayati (biotik), sosial budaya dan abiotik (fisik).

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa lingkungan hidup tidak semata urusan tanaman, hewan, bumi, sungai, gunung, udara dan sebagainya karena itu hanya meliputi unsur biotik dan fisik. Namun, ada unsur lain yang belum termasuk di dalamnya, unsur tersebut adalah unsur sosial budaya, yang melingkupi hubungan manusia dengan manusia lain, yang membentuk suatu lingkungan sosial masyarakat.

Telah kita sadari bersama bahwa lingkungan hidup kita begitu banyak masalah, tidak hanya menyangkut unsur fisik seperti polusi, sampah, illegal logging dan masih banyak yang lainnya. Unsur sosial budaya pun memiliki begitu banyak masalah, yaitu kejahatan, kemiskinan hingga propaganda LGBT yang sudah menjadi penyakit kronis yg menghinggapi lingkungan masyarakat kita.

Berbicara tentang LGBT, adalah berbicara tentang moral, berbicara tentang generasi penerus, norma agama, norma hukum dan tatanan hidup bermasyarakat. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya, mencegahnya dan menangkalnya. Propaganda LGBT saat ini bak bola salju, semakin hari semakin bertambah besar, bahkan para pelaku atau penderita sudah tidak malu-malu lagi tampil di depan umum, karena merasa sudah punya tempat di lingkungan masyarakat kita.

Kita tidak mau masyarakat kita ternodai bahkan terhinggapi penyakit berbahaya ini, kita tidak mau anak cucu, karib kerabat, tetangga hingga orang yang kita kenal dan sayangi terjerumus penyakit ini.

Oleh sebab itu, kami Komunitas Tangan Peduli Lingkungan, ingin turut serta memberikan sedikit kontribusi mengajak masyarakat  menyadari dampak negatif dari propagada LGBT ini. Tangan kami, tidak selalu peduli pada sampah, tanaman dan lain sebagainya, namun tangan kami pun peduli terkait hal masalah lingkungan sosial.

Bertepatan dengan Hari Sabtu, tanggal 07 April 2018, kami (TapeUli) berkerjasama dengan RKI wilayah Pondok Jaya. RKI adalah kepanjangan dari Rumah Keluarga Indonesia, sebuah lembaga yang concern dalam meningkatkan kualitas keluarga Indonesia, mengadakan pendidikan keluarga dan waspada bahaya LGBT, menghadirkan narasumber berkompeten, ia adalah sosok ibu yang sangat konsisten dalam menangani masalah keluarga khususnya LBGT, beliau adalah Ibu Wulan Saroso, ketua LK3 (Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga) Kota Depok.

Pada kesempatan ini, beliau memaparkan perkembangan LGBT di Kota Depok, bagaimana awal mula timbulnya penyakit ini, bagaimana cara penularannya, bagaimana cara menghadapinya hingga bagaimana cara mengantisipasi hal negatif tersebut.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 40 ibu aktivis peduli lingkungan dan penggerak bank sampah. Satu demi satu fakta dibuka, dari jumlah penderita LGBT yang sudah mencapai 7000 orang, metode penularan, mudahnya fasilitas yang menunjang interaksi di kalangan mereka, dan masih banyak fakta-fakta yang membuat kami pun terus mengelus dada, ternyata sudah separah ini lingkungan sosial kita.

Kami menyimak dan akhirnya mengetahui bahaya itu memang telah dekat dan ada di depan mata kita, kita ingin mencegah hal negatif ini menimpa bahkan menghinggapi lingkungan kita, kita harus peduli, tidak boleh cuek acuh tak acuh melihat fenomena ini, jangan pula kita hanya berkutat pada unsur fisik semata, sampah dan kawan-kawannya. Namun harus peduli pada unsur sosial juga, yaitu masyarakat.

 "Beberapa hal yang dapat kita lakukan, di antaranya adalah mulai membiasakan untuk menunjukkan sikap bersahabat, membantu mengarahkan, mendampingi, terutama bagi mereka pengidap atau siapapun yang mempunyai kecenderungan berbeda dengan yang lain (yaitu mereka yang tomboy bagi perempuan, bencong/banci, atau waria bagi laki-laki), karena selama ini mereka mendapatkan sikap diskriminatif dalam masyarakat. Mereka harus didekati dan diarahkan agar tidak semakin terjerumus dan bisa kembali pada kehidupan yang sehat." demikian kiat-kiat bentuk kepedulian yg disampaikan Bu Wulan.

Setelah menyimak pemaparan yang disampaikan narasumber, kami semakin bertekad untuk lebih peduli lagi, kami akan berusaha menjauhkan, mencegah dan menangkal generasi kami dari penyakit ini. Karena kami adalah wanita pemilik tangan-tangan yang peduli, peduli pada seluruh unsur dalam lingkungan.

"Selain upaya bentuk sikap kepedulian yg bisa diberikan,  upaya penting lain yang harus dilakukan adalah do'a yang harus terus dipanjatkan agar Sang Pemilik anak-anak kita,  senantiasa terus memberi bimbingan,  arahan dan perlindungan serta pertolongan-Nya,  karena sebaik-baik yg dapat melakukan itu semua untuk kita, anak dan keluarga semuanya, adalah Dia, Allah SWT, Tuhan semesta alam. " Tandas Ibu Madya ketua Komunitas TaPe uLi sekaligus menutup kegiatan.

Mari terus gelorakan semangat untuk terus peduli.