Minggu, 24 November 2019

Aksi Hari Pohon Sedunia 2019 Permata Depok


Oleh: Madya Harmeka L, S.Pd.I


‌Dalam rangka memperingati hari pohon sedunia, diselenggarakan aksi spontan menanam pohon dan membuat lubang biopori di Komplek Perumahan Permata Depok. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (TaPe uLi), Permata Depok Berkebun (PerDep Berkebun), PKK RT-RW 007, dan warga serta Pengurus RT-RW 007. Kegiatan ini meliputi aksi spontan membuat lubang-lubang biopori dan menanam sejumlah pohon di rumah, sekolah, taman, kebun dan lahan kosong yang ada disekitar Permata Depok.  Kegiatan ini juga disaksikan oleh Lurah Pondok Jaya, Mulyadi.

Aksi spontan ini merupakan sebuah aksi simbolis sebagai sebuah langkah awal agar kegiatan ini dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan oleh semua warga dengan melakukan aksi yang sama.

‌Agenda aksi yang dicanangkan ada 3 (tiga) yaitu membiasakan budaya minim sampah, menabung air (1 rumah minimal 7 lubang biopori/1 sumur resapan), dan menanam  pohon (1 rumah minimal 10 pohon).
Budaya minim sampah selama ini sudah mulai diterapkan dan dibiasakan dalam keseharian dan acara pertemuan warga, seperti arisan, pengajian, rapat, dan kegiatan-kegiatan lain yang ada di lingkungan Permata Depok.

Tahap selanjutnya adalah membiasakan budaya menabung air dan menanam pohon yang diterapkan disetiap rumah tangga.

‌Pohon dan air adalah dua unsur alam yang sangat penting buat makhluk hidup utamanya kita manusia.  Pohon dan air merupakan sumber kehidupan. Pohon memberikan kebutuhan oksigen untuk kita bernafas, karena kita hidup butuh bernafas. Begitupula dengan air, kita tak dapat hidup tanpa air karena tubuh kita mayoritas adalan air/cairan. Oleh karena itu kita semua harus benar-benar peduli,  sebagai wujud tanggung jawab kita sebagai pemimpin di dunia ini.  Agenda menjaga kelestarian alam, pohon dan air adalah agenda besar yang sangat penting agar kita segera lakukan hari ini juga untuk esok dan generasi kita yang akan datang.

‌Koordinator Perdep Berkebun, Kusnadi menyampaikan agar kegiatan ini dapat dibuat sebagai sebuah seruan kesemua warga, melalui RT masing-masing agar dapat sukses berjalan. Hal senada juga disampaikan Mamas selaku Ketua Posyandu Strawberry.  Sementara Heriyah, tim PokTan 3  PKK RW 007, mengatakan bahwa ketika aksi kegiatan peduli lingkungan  semacam ini dapat terus dilakukan bersama-sama, insyaa Allah akan bertambah semangat untuk terus berbuat untuk lingkungan.

Senin, 08 Juli 2019

TaPe uLi Menghadiri Seminar Dan Kunjungan Pabrik Kemasan


Oleh: Madya Harmeka L, S.Pd.I

Rabu, 26 Juni 2019, Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (TaPe uLi), mendapat kesempatan mengikuti Seminar dan kunjungan pabrik Kemasan Group bertema “Mengenal Lebih Dalam Tentang Polisterena Busa untuk Kebaikan Manusia dan Lingkungan”. Yang diselenggarakan oleh TRINSEO dan Kemasan Group.  Adapun acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang polistirena (yang dikenal dengan nama Styrofoam) sebagai bahan yang bermanfaat untuk kehidupan manusia, melihat fakta ilmiah terkait isu polistirena yang beredar di Indonesia terutama lingkungan, dan mengunjungi pabrik yang memproduksi kemasan makanan dari bahan ini. Rangkaian kegiatan ditutup dengan agenda Focus Group Discussion(FGD) bersama komunitas lingkungan lainnya, untuk menganalisa dan mencari gagasan terbaik dalam memanfaatkan bahan polistirena ini untuk kebaikan manusia dan lingkungan.
     

Pabrik daur ulang stereofoam yang rusak untuk dijadikan bahan mentah kembali

Acara berlangsung di Karawang, yaitu di PT Kemasan Cipta Utama Factory, Jl. Surya Madya Kav 128 F Industrial Area Surya Cipta, Karawang.

Narasumber yang hadir dan memberikan paparanya antara lain,
Bapak Wahyudi Sulistya, Presiden Direktur Kemasan Group, Dr. A. Zainal Abidin, Polystyrene Expert & Dosen ITB, serta Bapak Asroel Hussein dari Adupi.

Bahan mentah stereofoam

Dari kegiatan tersebut, kami dapat memahami lebih dalam tentang stereofoam keamanannya dan manfaatnya, serta komitmen dan upaya tanggung jawab perusahaan terhadap limbah produksinya tersebut di lingkungan, dimana stereofoam bisa didaur ulang, termasuk soal pengumpulannya dari masyarakat, hingga dapat kembali masuk ke pabrik untuk  didaur ulang dan kembali di proses, benar-benar harus segera direalisasikan.

Proses pencetakan, bentuk, dan pengepakan

Pendapat dan komentar kami setelah mengikuti kegiatan tersebut.  Pada kesempatan ini kami sekaligus juga menyerukan kepada semua pihak, baik pemerintah, industri dan masyarakat bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah yang diproduksi atau dihasilkan.
Dari pemerintah, kami tentu berharap, dapat dibuat sebuah regulasi dan penerapan yang serius dalam pengelolaan sampah dengan bijak, disambut dengan upaya masyarakat yang juga serius untuk mulai membiasakan untuk menerapkan bijak kelola sampah di lingkungan rumah dan masyarakat, perusahaan juga harus benar-benar serius dan bertanggung jawab dalam mendaur ulang sampah kemasannya.

Kami juga menangkap, pemerintah kurang dalam memberi peringatan keras bagi perusahaan-perusahaan yang belum serius menjalani upaya tanggung jawab penyelesaian sampah kemasannya, yaitu kemasan berjenis multilayer,seperti kemasan makanan berlapis alumunium foil, kemasan kotak, selopan, dll.

Budaya minim sampah plastik yang sedang digalakkan di masyarakat, tetap bisa menjadi upaya efektif dalam program pengurangan semua jenis sampah plastik baik yang single layer (kresek) maupun multilayer (alumunium foil, selopan, Tetra pack, mika, dll) dan dalam rangka membudayakan pola hidup hemat di masyarakat.

Jumat, 22 Maret 2019

Berkiprah di Bank Sampah, Harus Pantang Menyerah!

Hasil gambar untuk bank sampah depok

by, Novi Ardiani

“Dengan memilih untuk menjadi pengurus maupun nasabah bank sampah yang terus tanpa lelah menularkan semangat Go Green, artinya kiprah itu sudah dimulai. Dan, pantang dihentikan oleh apapun!”  

Saya belajar memilah sampah rumah tangga pada awalnya melalui forum arisan ibu-ibu RT di lingkungan tempat tinggal sekitar tahun 2012.  Ini pula yang menjadi awal persentuhan saya dengan kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga di Bank Sampah Ruby 2.

Pertengahan tahun 2012 merupakan awal dari dirintisnya Bank Sampah Ruby 2.  Saat itu, para ibu di bawah komando Ibu Faiko Isnaeni dengan sukarela belajar memilah sampah non organik secara otodidak melalui forum arisan warga.  Momen berkumpul dijadikan moment silaturahim para ibu sekaligus wahana belajar memilah sampah non organik sesuai dengan jenisnya.  

Nama Bank Sampah Ruby 2 dipilih sesuai dengan nama cluster di pemukiman tempat tinggal agar mudah diingat dan memunculkan rasa memiliki bagi warga Cluster Ruby khususnya RT 06 RW 10.  Sebelumnya, Bank Sampah Ruby 1 (dengan nasabah gabungan warga RT 01, 02, 03 dan 04) telah dibentuk dan menjadi partner Bank Sampah Ruby 2 dalam melakukan kegiatannya.  Mengingat jumlah penghuni cluster sebagai nasabah bank sampah terlalu padat untuk dicakup oleh satu bank sampah saja, maka kemudain lahirlah Bank Sampah Ruby 2 di RT 06 dan Bank Sampah Ruby 3 di RT 05.

Sejak dibentuknya Bank Sampah Ruby 2 tahun 2012, kediaman Keluarga Alip Subagyo- Faiko Isnaeni  (Ketua RT) secara sukarela dijadikan Sekretariat Bank Sampah Ruby 2. Sampah non organik yang telah dipilah oleh nasabah disetorkan ke sekretariat setiap Rabu pagi Pukul 7.00 sd. 8.00 WIB.  Selanjutnya, pengurus Bank Sampah Ruby 2 dan para relawan memilah lebih lanjut dan memastikan bahwa pilahan sampah telah sesuai dengan jenisnya. Mereka pula yang melakukan penimbangan, pencatatan, serta penyetoran keseluruhan pilahan sampah kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok yang datang secara rutin ke bank sampah-bank sampah di Kota Depok pada jadwal waktu tertentu.  
Relawan Bank Sampah: Ibu Peduli Kelola Sampah
Gambar 1 :  Suasana Pemilahan Sampah di Sekretariat Bank Sampah Ruby 2

Sebagai kompensasi dari penyetoran pilahan sampah secara rutin, Bank Sampah Ruby 2 menerima sejumlah rupiah yang dikumpulkan sebagai kas warga oleh Bendahara.  Uang ini digunakan sebagai sumber dana bagi sejumlah kegiatan warga RT 06 seperti kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga, operasional bank sampah, dan kegiatan pemeliharaan kebersihan lingkungan seperti kerja bhakti.  

Selain itu, Bank Sampah Ruby 2 juga memberikan apresisasi kepada nasabah yang menyetor sampah pilahan dengan benar dan baik dalam kuantum yang konsisten tiap pekannya.  Ganjarannya berupa pembebasan iuran kas RT. Ini dapat dilakukan karena pendapatan bank sampah kadang kala bisa mensubsitusi kebutuhan biaya dalam kas RT.
D:\bank sampah\LOMBA 3R\sosialisasi.jpg
Gambar 2: Kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di lingkungan tempat tinggal penulis yang dibiayai dari hasil pemilahan sampah di Bank Sampah

Saya mulai merasakan betapa tanggung jawab pengelolaan sampah rumah tangga bukanlah perkara sepele pada saat berkesempatan menjadi Koordinator untuk Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak di lingkungan RT sekitar tahun 2014 sampai dengan 2015.  Pengelolaan Bank Sampah Ruby 2 menjadi program kerja yang berada di bawah tanggung jawab saya. Upaya untuk memberdayakan para ibu, anak-anak dan para asisten rumah tangga dalam pengelolaan sampah rumah tangga melalui bank sampah, ternyata tidak mudah.  Apalagi tidak setiap orang memiliki waktu, tenaga, dan level kepedulian yang setara untuk menjadi relawan dan pengurus bank sampah.

Menjadi pengurus bank sampah  memang bukanlah peran yang mudah. Tidak setiap ibu di lingkungan tempat tinggal saya, berani untuk menjalani peran ini.  Termasuk saya. Saya memilih untuk jadi nasabah, dan bergerak di belakang layar saja. Misalnya, dengan mensupport komunikasi dan publikasi mengenai bank sampah.  Ini masih bisa saya lakukan di sela kewajiban pekerjaan di kantor.  Sebagian besar waktu saya di kantor pagi hingga sore hari, sehingga tidak memungkinkan untuk bersama para ibu pengurus bank sampah pada siang hari.  

Menjadi pengurus bank sampah artinya merelakan untuk mengorbankan sebagian waktu keluarga dan pribadi untuk mengurusi sampah pilahan dengan konsentrasi lebih. Artinya pula, merelakan waktu untuk belajar memilah sampah, mengajarinya kepada para nasabah, mengajak masyarakat sekitar untuk giat memilah sampah dan menjadi nasabah.  Sekaligus, bersedia setiap waktu berkoordinasi dengan pihak terkait untuk kemajuan program bank sampah.

Lebih dari itu, pengurus harus merelakan rumah kediaman menjadi posko kegiatan pengumpulan dan penimbangan sampah kering pilahan warga/nasabah. Jelas, menjadi pengurus bank sampah bukan urusan mudah. Mereka adalah volunteer lingkungan yang tidak tergantikan.  

Kiprah Publikasi dan Komunikasi

Berkecimpung di bank sampah dengan menjadi nasabah aktif dan aktor belakang layar, adalah pilihan akhir bagi saya.  Sebisa-bisanya, dengan sumber daya yang ada, saya mendukung eksistensi Bank Sampah Ruby 2 dengan membuatkan profil, visi misi, hingga materi presentasi yang diperlukan ketika akan maju untuk lomba.

Karena tidak dapat bersama para ibu pengurus Bank Sampah Ruby 2 di siang hari untuk kegiatan bank sampah, saya mencuri-curi jam kerja untuk mendukung dan ikut kontribusi dengan cara lain. Terutama, untuk menyusun materi komunikasi dan publikasi yang dibutuhkan Bank Sampah Ruby 2. Ketika masih menjadi Koordinator Pemberdayaan Perempuan dan Anak di lingkungan tempat tinggal, saya menyusun brosur yang mengajak warga untuk aktif memilah sampah dan menjadi nasabah.  Brosur ini saya kerjakan di saat jam istirahat kantor.


Gambar 3  : Brosur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan dibagikan ke warga
Gambar 4  : Brosur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan dibagikan ke warga

Setelah dibuat, brosur ini diperbanyak dan dibagikan ke warga bersama-sama dengan Petunjuk Bagan Alur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.  Tujuannya agar warga paham dan punya pedoman dalam pengelolaan sampah rumah tangga, termasuk pemilahan sampah di bank sampah.

Patut disyukuri, upaya ini sedikit banyak mengguggah warga untuk peduli pada lingkungannya. Perlahan-lahan, warga mulai melakukan langkah nyata memilah sampah dan menyetorkan ke Bank Sampah Ruby 2.  Nasabah Bank Sampah Ruby 2 setiap tahun pun semakin bertambah walau ada pula yang maju mundur dalam melakukan pemilahan sampah.

Gambar 5 :   Materi pamflet Bagan Alur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan dibagikan kepada warga  sebagai pedoman

Gambar 6 :   Materi pamflet Bagan Alur Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang dibuat penulis dan
dibagikan kepada warga  sebagai pedoman


Terus Berkiprah Terus Memilah!

Saat ini, Sekretariat Bank Sampah Ruby 2 telah berpindah tempat ke rumah kediaman keluarga Bapak Wemfi - Ibu Kiki Mulyowati  dengan semangat pemilahan sampah yang tidak kalah berkobar dengan pendahulunya Bapak Alip Subagyo-Ibu Faiko Isnaeni. Setiap pekan, nasabah selalu diingatkan untuk menyetor sampah pilahan ke Sekretariat Bank Sampah Ruby 2 yaitu setiap hari Rabu pagi sebelum Pukul 9.00 Wib.  

Saya selalu merasa salut dengan kiprah para pengurus bank sampah dan relawan.  Mereka konsisten mengajak warga untuk memilah sampah. Sejujurnya, ini memotivasi!  Memilah sampah sangat membantu dalam mengurangi sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian hari kian minim daya tampungnya.  Memilah sampah dengan benar sesuai jenis membuat sampah yang dibuang ke TPA betul-betul hanya sampah residu saja. Sampah residu adalah sampah yang sudah tidak bisa diolah lagi.  Sedangkan sampah pilahan dapat didaur ulang menjadi produk ramah lingkungan yang bernilai ekonomi. Pengalaman saya selama enam tahun terakhir, memilah sampah dengan benar bisa mengurangi pembuangan sampah hingga 2/3 nya.

Gambar 7 :  Kegiatan ibu ibu di lingkungan tempat tinggal penulis
dalam mengkreasikan produk daur ulang dari sampah pilahan
Gambar 8  : Kegiatan ibu ibu di lingkungan tempat tinggal penulis
dalam mengkreasikan produk daur ulang dari sampah pilahan


Konsistensi para pengurus Bank Sampah Ruby 2 sebetulnya menular pada saya.  Saya menyediakan pojok khusus di lantai atas rumah untuk mengepul sampah pilahan yang akan disetor ke bank sampah.  Setiap hari, dalam berbagai kesempatan, anak-anak dilibatkan dalam pemilahan sampah. Tempat sampah pun dibuat terpisah untuk sampah organik dan non organik.  Anak-anak jadi terbiasa sampai sekarang. Namun ini bukan terjadi begitu saja. Perlu memberikan contoh kepada anak, dan konsisten. Kadang itu yang tidak mudah bagi ibu.

Asisten rumah tangga saya sejak 2012 hingga sekarang, datang dan pergi. Sudah berganti sekian kali, tetapi setiap kali berganti selalu diajarkan memilah sampah.  Saya ceburkan asisten rumah tangga kepada kegiatan bank sampah dan memilah sampah. Lama-lama semua jadi terbiasa. Dan seperti inilah yang memang saya impikan. Memilah sampah jadi sebagian nafas dalam bergulirnya roda hidup. Walaupun perjalanannya sangat panjang.  

Saya meyakini, berperan aktif dalam memilah sampah dan peduli pada lingkungan tidak harus dengan menjadi pengurus bank sampah.  Bahkan dengan menjadi nasabah aktif yang konsisten atau mendukung kiprah di belakang layar juga sama manfaatnya. Yang terpenting adalah semangat dan kesadaran untuk Go Green  bukan hanya di bibir, tetapi dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari.  

Bagaimana agar tidak bosan memilah? Ya, memilah itu bikin lelah. Apalagi ketika lingkungan kita tidak kondusif.  Juga ketika banyak orang lalu mulai tidak peduli lagi. Satu-satunya cara yang dapat membuat saya bertahan untuk tetap memilah sampah adalah keinginan untuk meraih berkah.  Tanggung jawab manusia terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri dengan mengelolanya mungkin akan menjadi berkah. Berkah bagi keluarga dan anak cucu kelak. Karena lingkungan bersih juga adalah hak mereka.  

Siapapun kita, pengurus bank sampah atau nasabah, mari jangan bosan dan lelah memilah.  Terus berkiprah. Hidupkan Bank Sampah. Bebaskan lingkungan dari sampah! Semoga ini semua akan jadi berkah.  Berkah yang Melimpah! Ingatlah, berkiprah di bank sampah harus pantang penyerah! Jangan berhenti memilah sampah!(Opi)


Biodata Penulis :

Novi Ardiani, akrab disapa Opi adalah ibu dua anak yang suka menulis. Lahir di Jakarta pada November 1977, dan senang belajar hal-hal baru.  Menyelesaikan pendidikan S1 Biologi FMIPA UI dan S2 Ilmu Manajemen FEB UI. Selain pernah menjadi dosen Mikrobiologi di FK Yarsi Jakarta, pernah pula menjadi jurnalis di Harian Media Indonesia. Saat ini masih bekerja sebagai karyawati Perum BULOG dan sebagai bloger aktif menulis di blog pribadinya www.opiardiani.com.  Belajar memilah sampah dan mendukung di balik layar untuk Bank Sampah Ruby 2 Permata Depok Regency ketika masih mengemban amanah sebagai Pengurus RT Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak di wilayah tempat tinggalnya. Selalu ingin menularkan hal positif melalui tulisan, termasuk kepedulian terhadap pengolahan sampah.