Minggu, 15 Desember 2019

Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (Tapeuli) Goes to Cirebon (Part 1)



Studi Banding Masaro di MAN 2 Cirebon dan Fun Trip to Gua Sunyaragi

Pada tanggal 7 Desember 2019, Anggota Komunitas Tangan Peduli Lingkungan (Tapeuli) mengadakan kegiatan study banding ke sekolah MAN 2 Cirebon yg menerapkan sistem MaSaRo (Manajemen Sampah Zero). MAN 2 Cirebon merupakan satu-satunya sekolah di dunia yg menjalani sistem MaSaRo di dalam lingkungan sekolah. Yang digagas oleh Prof. Zaenal Abidin & dikelola oleh bapak H. Mahfudi Beserta Ibu Wati. Menurut pengakuan Bpk. H. Mahfudi, MAN 2 pernah mendapatkan penghargaan, dukungan & perhatian dari negara asing yaitu Amerika,  serta pernah dikunjungi langsung tamu dari Amerika selama 2 hari di MAN 2 ini.

Ada 3 misi yg dijalankan oleh tim Mas
SaRo, Yaitu; Mengelola sampah di dalam lingkungan sekolah MAN 2, Pesantren sekitar (karena banyaknya lembaga pesantren di sekitar lingkungan sekolah ini), dan dari lingkungan masyarakat umum.

Adapun visi dari sistem Masaro ini yaitu;
Lembaga sekolah MAN 2 sebagai percontohan ramah lingkungan. Niatnya sebagai Rahmatan lil'alamiin. Ikhlas tanpa pamrih dalam Membantu masyarakat menjadi lebih nyaman dalam mengatasi permasalahan sampah pada umumnya & lingkungan sekolah pada khususnya.

Motto yg diterapkan : Kerja Profesional. Kerja Keras. Kerja Cerdas. Kerja Ikhlas. Kerja tuntas serta Evaluasi terus menerus.

Adapun salah satu hasil yang didapat dari program MaSaRo ini yaitu, bisa Menghasilkan Pupuk Organik Cair Istimewa (POCI) yg berkualitas baik. Selain harganya yang Lebih ekonomis, berikut ini beberapa keunggulannya. yaitu, menggunakan teknologi revolper, memperbaiki lahan pertanian yg sudah kritis & miskin unsur hara, hasil panen dapat tumbuh lebih subur, mempercepat keluar bunga & buah, memperbaiki kualitas rasa buah & dapat mengurangi kerontokan buah/bunga dibanding menggunakan pupuk lain. Cara Pembuatan pupuk dari bahan sampah organik yang mudah hancur. Tidak termasuk sampah organik yang bertekstur keras, seperti; tulang ikan, biji salak, kulit telur dll. Ampas sisa pembuatan pupuk cair masih bisa dipergunakan lagi, yaitu sebagai bahan media tanam.


Kami diajak berkeliling mengunjungi tempat pembuatan pupuk cair. Mulai dari proses fermentasi, penyaringan, hingga hasil akhir yang siap dikemas & dipasarkan. Kami juga diajak melihat proses pembakaran sampah melalui alat khusus, sehingga asap tidak menimbulkan polusi udara. Adapun sisa-sisa hasil pembakaran sampah tersebut lagi-lagi masih  bisa dimanfaatkan sebagai pelapis anti rayap di media kayu kusen. Luar biasa sekali bukan?, jika sistem MaSaRo ini dijalankan di semua wilayah tentunya kita tidak perlu pusing lagi untuk mencari lahan TPA(Tempat Pembuangan Akhir).

Ada manfaat lagi dalam proses MaSaRo ini, mengenai pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar melalui proses "Pirolisis", yakni proses dekomposisi senyawa organik yang terdapat dalam plastik melalui proses pemanasan katalitik dengan tanpa melibatkan oksigen. yaitu : pengolahan sampah menjadi penguat jalan aspal (plastipal) dan bisa menjadi BBM (bahan bakar minyak). Sayangnya, pada saat itu kami tidak dapat melihat proses tersebut dikarenakan alatnya sedang dalam masa perbaikan.

Rencana kedepannya, MaSaRo MAN 2 ingin membuat terobosan baru yakni pestisida organik dengan bahan dasar rebung bambu hitam & bongkol pisang batu hitam. Semoga dapat segera terealisasi.

Setelah kami mengunjungi lokasi MaSaro, kami melanjutkan perjalanan ke situs Gua Sunyaragi. Gua tersebut merupakan peninggalan sejarah sejak thn 1529 M Di Kota Cirebon. Sering juga disebut sebagai Taman sari Sunyaragi. Nama “Sunyaragi” berasal dari kata “sunya” yang artinya sepi dan “ragi” yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sansekerta. Gua Sunyaragi ini dahulu sering digunakan sebagai tempat meditasi para sultan Cirebon beserta keluarganya. Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Gua Sunyaragi ini,  kami terkagum-kagum dengan batuan karang yang bertumpuk tak beraturan ini. Batuan karang tersebut disusun tanpa pola khusus dan konon katanya direkatkan dengan putih telur dan hasilnya sangat artistik dan menarik.


Total terdapat 10 gua di situs bersejarah di Cirebon tersebut. Dan ukurannya tak terlalu besar. Sepuluh gua di situs tersebut terdiri dari Gua Pandekemasan, Gua Simanyang, Gua Pengawal, Gua Pandekemasan, Gua Peteng, Gua Langse, Gua Arga Jumut, Gua Lawa, Gua Pawon dan Gua Kalanggenan. Terlepas dari banyaknya mitos yang beredar, Gua Sunyaragi ini punya banyak spot berfoto Instagramable lho... Waah, jadi tunggu apa lagi, jika berkesempatan pergi ke Cirebon, jangan lupa untuk mampir ke Gua Sunyaragi ini ya!, seperti kami.



 (Windiana)
Reaksi:

1 komentar: