Kamis, 10 Mei 2018

Pendidikan Keluarga dan Waspada Bahaya LGBT




Oleh : Rika Y. Widyastuti, S.IKom


Apa itu lingkungan hidup?

Ada banyak pengertian mengenai lingkungan hidup, ada yang menyebutkan bahwa lingkungan hidup adalah sebuah kesatuan yang meliputi makhluk hidup dan seluruh komponen di sekitarnya (www.lingkunganhidup.co).

Pengertian lain menurut UU No. 23 Tahun 1997, menjelaskan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan prilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia  serta makhluk hidup yg lain. Ada tiga unsur yang membentuk lingkungan hidup itu sendiri yaitu unsur hayati (biotik), sosial budaya dan abiotik (fisik).

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa lingkungan hidup tidak semata urusan tanaman, hewan, bumi, sungai, gunung, udara dan sebagainya karena itu hanya meliputi unsur biotik dan fisik. Namun, ada unsur lain yang belum termasuk di dalamnya, unsur tersebut adalah unsur sosial budaya, yang melingkupi hubungan manusia dengan manusia lain, yang membentuk suatu lingkungan sosial masyarakat.

Telah kita sadari bersama bahwa lingkungan hidup kita begitu banyak masalah, tidak hanya menyangkut unsur fisik seperti polusi, sampah, illegal logging dan masih banyak yang lainnya. Unsur sosial budaya pun memiliki begitu banyak masalah, yaitu kejahatan, kemiskinan hingga propaganda LGBT yang sudah menjadi penyakit kronis yg menghinggapi lingkungan masyarakat kita.

Berbicara tentang LGBT, adalah berbicara tentang moral, berbicara tentang generasi penerus, norma agama, norma hukum dan tatanan hidup bermasyarakat. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya, mencegahnya dan menangkalnya. Propaganda LGBT saat ini bak bola salju, semakin hari semakin bertambah besar, bahkan para pelaku atau penderita sudah tidak malu-malu lagi tampil di depan umum, karena merasa sudah punya tempat di lingkungan masyarakat kita.

Kita tidak mau masyarakat kita ternodai bahkan terhinggapi penyakit berbahaya ini, kita tidak mau anak cucu, karib kerabat, tetangga hingga orang yang kita kenal dan sayangi terjerumus penyakit ini.

Oleh sebab itu, kami Komunitas Tangan Peduli Lingkungan, ingin turut serta memberikan sedikit kontribusi mengajak masyarakat  menyadari dampak negatif dari propagada LGBT ini. Tangan kami, tidak selalu peduli pada sampah, tanaman dan lain sebagainya, namun tangan kami pun peduli terkait hal masalah lingkungan sosial.

Bertepatan dengan Hari Sabtu, tanggal 07 April 2018, kami (TapeUli) berkerjasama dengan RKI wilayah Pondok Jaya. RKI adalah kepanjangan dari Rumah Keluarga Indonesia, sebuah lembaga yang concern dalam meningkatkan kualitas keluarga Indonesia, mengadakan pendidikan keluarga dan waspada bahaya LGBT, menghadirkan narasumber berkompeten, ia adalah sosok ibu yang sangat konsisten dalam menangani masalah keluarga khususnya LBGT, beliau adalah Ibu Wulan Saroso, ketua LK3 (Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga) Kota Depok.

Pada kesempatan ini, beliau memaparkan perkembangan LGBT di Kota Depok, bagaimana awal mula timbulnya penyakit ini, bagaimana cara penularannya, bagaimana cara menghadapinya hingga bagaimana cara mengantisipasi hal negatif tersebut.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 40 ibu aktivis peduli lingkungan dan penggerak bank sampah. Satu demi satu fakta dibuka, dari jumlah penderita LGBT yang sudah mencapai 7000 orang, metode penularan, mudahnya fasilitas yang menunjang interaksi di kalangan mereka, dan masih banyak fakta-fakta yang membuat kami pun terus mengelus dada, ternyata sudah separah ini lingkungan sosial kita.

Kami menyimak dan akhirnya mengetahui bahaya itu memang telah dekat dan ada di depan mata kita, kita ingin mencegah hal negatif ini menimpa bahkan menghinggapi lingkungan kita, kita harus peduli, tidak boleh cuek acuh tak acuh melihat fenomena ini, jangan pula kita hanya berkutat pada unsur fisik semata, sampah dan kawan-kawannya. Namun harus peduli pada unsur sosial juga, yaitu masyarakat.

 "Beberapa hal yang dapat kita lakukan, di antaranya adalah mulai membiasakan untuk menunjukkan sikap bersahabat, membantu mengarahkan, mendampingi, terutama bagi mereka pengidap atau siapapun yang mempunyai kecenderungan berbeda dengan yang lain (yaitu mereka yang tomboy bagi perempuan, bencong/banci, atau waria bagi laki-laki), karena selama ini mereka mendapatkan sikap diskriminatif dalam masyarakat. Mereka harus didekati dan diarahkan agar tidak semakin terjerumus dan bisa kembali pada kehidupan yang sehat." demikian kiat-kiat bentuk kepedulian yg disampaikan Bu Wulan.

Setelah menyimak pemaparan yang disampaikan narasumber, kami semakin bertekad untuk lebih peduli lagi, kami akan berusaha menjauhkan, mencegah dan menangkal generasi kami dari penyakit ini. Karena kami adalah wanita pemilik tangan-tangan yang peduli, peduli pada seluruh unsur dalam lingkungan.

"Selain upaya bentuk sikap kepedulian yg bisa diberikan,  upaya penting lain yang harus dilakukan adalah do'a yang harus terus dipanjatkan agar Sang Pemilik anak-anak kita,  senantiasa terus memberi bimbingan,  arahan dan perlindungan serta pertolongan-Nya,  karena sebaik-baik yg dapat melakukan itu semua untuk kita, anak dan keluarga semuanya, adalah Dia, Allah SWT, Tuhan semesta alam. " Tandas Ibu Madya ketua Komunitas TaPe uLi sekaligus menutup kegiatan.

Mari terus gelorakan semangat untuk terus peduli.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar